Selasa, 18 Desember 2012

My Secret Admirer

Ini kira-kira aku alami kurang lebih 8,5 bulan yang lalu. Suatu hari, saat jam pulang sekolah, tiba-tiba salah seorang sahabatku, Dea, berteriak memanggil namaku sambil berlari menghampiriku yang pada waktu sedang berada di depan kelas tetanggaku. Setelah sampai dihadapanku dia memberikan sesuatu padaku dan berkata, "ini ada dari D (sebut saja)" "lho apa ini?", "jangan dibuang lho. Tadi dia nyuruh aku kasiin ke kamu. Aslinya tadi nggak ada pengirimnya, terus tak tulisin. Lha masa ngasih nggak ada nama pengirimnya. Yaudah ya, jangan dibuang ka". Akhirnya sahabatku itu pergi meninggalkanku dengan beribu tanya dalam benakku. Sejenak aku memandangi pemberian tadi, permen lollipop kecil berbentuk hati. Di situ ada tulisan "from: D to: Ika Siapapun kamu, ada seseorang yang mengasihi dan memperhatikanmu" Segera aku simpan permen itu ke dalam saku seragamku. Walaupun ada perasaan bingung, tapi ya sudahlah. Si D adalah teman sekelas Dea. Aku nggak mengenalnya, tapi entah kenapa teman-temanku dan teman-temannya selalu menggodaku dengannya.

Tak beberapa lama kemudian, si Echa muncul dan berkata "Ayo Ka". Kami pun berjalan menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, aku bercerita padanya tentang permen tadi. Responnya begini, "yek, nggak berani ngasihin sendiri" "Lha ya itu Cha" "mana permennya? liat po'o" Aku kasihkan permen itu dan dia berkata lagi, "haduh, permen hadiah dari mana ini?" Aku hanya nyengir. Tiba-tiba dari arah teman-temanku yang lain terdengar teriakan, "Cieee, Ika rek.. Dari siapa itu Ka?" Dijawab Echa, "dari pengagum rahasianya Ika" Teman-temanku sontak bersorak menggodaku. Aku hanya tersenyum saja. Malu. Sesampainya di rumah, aku bingung tentang permen itu. Apa mau aku makan, aku buang, atau aku simpan? Aku cium baunya. Wah, baunya manis tapi manis dengan pengawet yang berlebihan. Kalau aku menebak, pasti rasanya hambar. Berhubung aku ingat kata-kata temanku tadi, ya akhirnya ku coba makan. Ternyata benar dugaanku, rasanya manis tapi sesudah itu pahit sekali dan hambar. Tanpa pikir panjang, terpaksa aku buang permen itu. Masa mau aku simpan? Tetapi walau permennya ku buang, tulisannya tidak aku buang. Bahkan sekarang masih tersimpan rapi di laci :)

Minggu, 01 April 2012

Midnight

Di ruang sempit ini aku mencurahkan segala kegelisahanku. Dengan bercahayakan lampu remang-remang aku menyalurkan perasaanku menjadi pahatan-pahatan patung bernilaikan seni tinggi. Bisa dibilang kegiatanku ini merupakn bagian dari "ritual" keseharianku saat larut malam. Orang rumah tak ada yang mengetahui hal ini, lebih tepatnya aku melakukan semua ini secara diam-diam.
Berbagai bentuk pahatan patung yang ku hasilkan mulai dari yang hanya mempunyai tinggi 50 cm hingga yang mempunyai tinggi mencapai lebih dari 1 meter.


Namun, pada suatu malam terjadilah peristiwa itu...
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Saat itu aku tertidur di gudang bawah tanah setelah menyelesaikan pahatan patungku yang ke-50. Tiba-tiba saja aku terbangun dari mimpiku setelah mendengar suara keributan yang amat keras. Namun rupanya semua terlambat, karena aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak tak karuan, dan membuat keringatku mengucur deras. Tanganku,kakiku diikat dengan rantai yang sekeras baja. Mataku satu-satunya yang dapat ku gerakkan dibiarkan melihat sesuatu yang mengerikan!
Aku melihat potongan tangan,kaki,dan kepala manusia yang dibunuh dengan sadisnya! Ibuku! Potongan tubuh itu adalah milik ibuku!
Seketika itu juga aku berteriak amat kencang dan aku mengeluarkan seluruh tenagaku hingga rantai yang mengikatku berhasil aku lepaskan. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku kumpulkan dan aku susun potongan tubuh ibuku. Malam itu aku benar-benar kalut hingga aku berteriak, aku marah, aku menangis, dan tanpa kusadari patung-patung hasil kerja kerasku selama ini aku hancurkan begitu saja.
Dengan segala amarahku, aku keluarkan sumpah serapah bagi orang yang telah melakukan ini semua!


Sejak saat itu, aku menjadi seorang lelaki berusia 18 tahun yang mendadak sebatang kara. Selama ini aku hanya tinggal dengan ibuku dan seorang koki, karena ayahku telah meninggal sejak aku masih kecil.
Peristiwa berdarah malam itu lantas menjadikanku berubah 180 derajat. Aku yang selama ini seorang lelaki yang penyayang dan lembut, mendadak menjadi lelaki yang kejam, beringas, dan tak kenal ampun. Seakan-akan mataku telah tertutup oleh kegelapan akibat rasa dendam atas pembunuhan sadis ibuku. Aku melatih diriku sendiri hingga menjadi orang yang kuat dan amat ditakuti saat aku berusia 20 tahun.


3 tahun ini aku mencari pelaku pembunuhan ibuku yang menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi. Hingga pada suatu hari di cafe tempatku nongkrong, aku mendengar percakapan dua orang lelaki yang berpakaian serba hitam. Mereka memakai hem hitam, jas hitam selutut, kacamata hitam, dan topi hitam. Dari penampilan mereka seperti kawanan perampok kelas kakap yang menjadi buronan polisi.
Aku mendengar percakapan mereka tentang pembunuhan seorang wanita yang mempunyai anak laki-laki berusia 18 tahun, 3 tahun yang lalu. Seketika itu juga wajahku merah padam, amarahku telah sampai diujung kepala. Maka saat mereka keluar cafe, aku mengikuti ke mana mereka pergi secara diam-diam.


Sesampainya diujung gang terpencil di tengah kota, aku melihat mereka bertukar koper dengan seseorang yang sama mencurigakannya. Yang lebih parah lagi, aku melihat salah seorang dari mereka mngeluarkan selembar foto seorang wanita. Foto itu adalah foto ibuku! Dengan seluruh amarah, aku keluarkan pistol dari saku celanaku dan ku tembakkan bergantian pada ketiga orang itu. DOOORRRRRRRR!!!! Dua dari mereka jatuh tersungkur. Tapi.. mendadak pandanganku kabur dan aku pun ikut terjatuh. Kepalaku seperti sudah terlepas dari tubuhku.. Rupanya ada seseorang yang menembak kepalaku dari arah belakang. Detak jantungku sudah mulai melemah.. benar-benar lemah. Namun, aku masih bisa mendengar orang yang menembakku berkata, "kau sudah berakhir anakku", dan.. aku sudah merasa nyawaku telah meninggalkan ragaku.

THE END

Selasa, 20 Maret 2012

Kisah Gadis Bermata Coklat

Disuatu siang yang terik, seorang gadis kecil bermata coklat duduk disebuah ayunan dengan kakak perempuannya. Tiba-tiba gadis kecil itu bertanya, "kak, apa itu impian?". Sang kakak begitu terkejut mendengar pertanyaaan adiknya yang masih berusia 5 tahun. Saat itu sang kakak bingung akan menjawab bagaimana, lalu akhirnya ia menjawab, "impian adalah sesuatu yang indah.. kita hidup untuk mewujudkan impian itu, baik itu hal kecil sampai hal-hal yang kakak rasa sulit untuk diwujudkan". Gadis kecil yang masih berusia 5 tahun itu hanya duduk sambil termenung mendengar jawaban kakak perempuannya. Dalam hati ia tidak mengerti apa yang dibicarakan kakaknya, namun ia tahu satu hal pasti bahwa sang kakak memiliki sebuah impian besar yang belum bisa ia wujudkan. "Senyum kakak.. aku ingin tahu apa maksud senyum kakak" pikir gadis kecil dalam hati. Sang kakak yang menangkap wajah bingung dari adiknya kemudian berkata lagi sambil tersenyum, "mungkin saat ini kamu belum mengerti apa yang kakak katakan, tapi kakak yakin suatu saat kamu akan mengalami apa yang kakak katakan".


10 tahun kemudian...

Disuatu siang yang terik, seorang gadis remaja yang berlari tergopoh-gopoh dibasahi keringat bercucuran di dahinya. Ia tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang yang dilewatinya. Tujuannya hanya satu... bertemu sang kakak di taman itu.
Akhirnya, gadis remaja itu telah sampai di taman tempat sang kakak menunggu. Namun ia tak melihat sang kakak di sana. Walau begitu, gadis remaja itu duduk di sebuah ayunan yang sama dengan 10 tahun yang lalu. Diwajahnya tampak jelas menerawang kata-kata kakaknya. Dengan suara lirih disambung derai air mata ia berkata, "kakak..lihatlah.. aku telah berhasil mewujudkan impian kita.. medali emas ini adalah hasil kerja keras kita selama ini kak.. terima kasih karna kakak telah mendukungku selama ini..". Air mata gadis remaja itu tak dapat terbendung lagi, ia mencurahkan isi hatinya dalam diam entah apakah kakaknya mendengar jeritannya ini.


*Flashback 10 tahun yang lalu*
Keesokan harinya setelah percakapan singkat di taman, kakak perempuan gadis kecil itu mengikuti lomba lari marathon nasional di kotanya. Gadis kecil datang untuk memberi dukungan penuh kapada sang kakak. Ia tahu bahwa dari dulu sang kakak ingin sekali mendapatkan medali emas dalam lomba lari marathon nasional. Tapi.. 5 meter sebelum mencapai garis finish, tiba-tiba sang kakak jatuh pingsan. Saat dibawa ke rumah sakit, dinyatakan bahwa ia meninggal dunia. Tanpa sepengetahuan dirinya, ternyata sang kakak menderita sakit jantung. Dokter telah melarangnya untuk berlari lagi, namun sang kakak tetap keras kepala hingga dokter dan keluarga pun angkat tangan. Ya, benar-benar sebuah pukulan besar bagi gadis berusia 5 tahun. Andai kakaknya tadi dapat bertahan, ia pasti akan mendapat medali emas.
Sejak saat itulah gadis kecil tersebut ingin mewujudkan impian kakaknya itu.


Setelah 10 tahun berlalu, gadis kecil yang telah tumbuh menjadi gadis remaja telah berhasil mewujudkan impian kakaknya dan juga impiannya. Sekarang ia tahu arti senyum kakaknya itu. "Kakak benar, impian adalah sesuatu yang indah" katanya dengan senyum lembutnya.

-the end-

The Wait

It never ends, my hope to you
Eventhough you're always silent with me
Like a false shadow
Whose presence is unknown

But I tried..
Waiting for something I don't know for sure
When will you come to me
Giving me the meaning of love

Was my wait all this time is worthless?
But I'm always here
Only for you


by: Ika