Jika ditanya, “apakah kamu
mempunyai teman?”. Jawabannya pasti “YA”.
Di era globalisasi seperti
saat ini, tentu kita semua mempunyai “teman”.
Istilah
teman bagi anak muda jaman sekarang ada dua, yang pertama adalah “teman nyata”.
Yah misalnya saja teman sekolah, teman kuliah, teman nongkrong, teman gaul,
teman nge-mall, teman main game, dan sebagainya. Lalu yang kedua adalah “teman
tidak nyata”. Yang saya maksud bukan teman dari dunia lain lho. Tapi yang saya
maksud adalah teman dunia maya seperti teman facebook, teman twitter, teman
instagram, teman path, teman yahoo messenger, teman line, teman whatsapp, dan
sebagainya.
Bayangkan
saja kalau kita memiliki teman sebanyak itu, pasti kita dianggap sebagai anak
gaul, anak mbois, anak keren, bahkan bisa jadi kita mendapat julukan “anak
geng” gara-gara kita mempunyai teman yang mengikuti ke mana pun kita pergi.
Ngomong-ngomong
soal teman, sebenarnya apa kalian tahu definisi ‘teman’ itu apa?. Menurut
sumber terpercaya yang saya dapatkan (baca: wikipedia), definisi persahabatan
atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama
dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial.
![]() |
| Sumber: geraeldo.com |
Nah,
sekarang pertanyaan yang paling penting, “Sejauh mana teman mempengaruhimu?”.
Ini merupakan pertanyaan yang paling mudah dijawab tetapi sebenarnya juga
pertanyaan mematikan. Tidak percaya?? Coba simak apa yang saya sampaikan..
cekidot.
Semua
bermula dari pertama kali saya memasuki jenjang perkuliahan. Saat itu saya
merasa asing, nervous, dan seketika berbagai pikiran buruk menyerang saya
hingga membuat perut saya mulas (mungkin terdengar lucu, tapi inilah yang saya
alami -__-).
Ternyata
setelah saya berkenalan dengan beberapa anak, saya berpikir bahwa ‘oh ternyata
mereka baik ya, ramah, ramai, menyenangkan’. Padahal waktu itu saya bertemu anak-anak
dengan berbagai latar belakang berbeda, ras berbeda, suku berbeda, yang mungkin
kebanyakan orang berpikir bahwa ras dan suku berpengaruh dalam kita melihat
seseorang sebagai orang seutuhnya (apa ya bahasanya, saya bingung.hehe). Dari
apa yang saya alami dan saya rasakan, ternyata berbeda dengan apa yang saya
pikirkan sebelumnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa stereotype (keyakinan
mengenai kepribadian seseorang atau kelompok) yang saya pikirkan, berbeda
dengan apa yang akhirnya saya alami. Setelah kejadian itu saya berpkir tentang
apa yang saya lihat dimasyarakat. Kebanyakan anak muda menilai orang dari
tampilan luarnya saja sehingga menimbulkan stereotype. Sebenarnya, perlu kita
sadari bahwa stereotype merupakan awal timbulnya diskriminasi (membeda-bedakan
orang lain menurut suku dan rasnya). Misalnya, jika kita hanya mau berteman
dari etnis tertentu karena kita menganggap buruk etnis lain. Nah, hal ini yang
dinamakan stereotype dan berkembang menjadi prejudice (prasangka). Kemudian
berkembang lagi menjadi suatu diskriminasi. Apakah kamu sudah mendapat
kesimpulan dari apa yang saya sampaikan? Hmmm..baiklah, akan saya terangkan.
Jadi kebanyakan dari pemikiran buruk kita dipengaruhi oleh orang lain terutama
‘teman’. Jangan mengelak kalau sebenarnya setengah dari keputusan yang kamu
ambil karena pengaruh dari teman-temanmu. Misalkan, kamu membolos karena diajak
teman, tidak mengerjakan tugas karena dipengaruhi teman, membeli makanan karena
ikut-ikutan teman, ulangan ikut jawaban teman, mengerjakan tugas minta pendapat
teman, dan sebagainya. Kebayang kan, bagaimana jadinya jika sebagian besar
keputusan kita dipengaruhi teman? Kalau itu baik nggakpapa, tapi lebih baik lagi
kita punya pendirian dengan tidak selalu mengikuti perkataan orang lain :)
![]() |
| Sumber: pengetahuan-dan-hiburan.blogspot.com |

