Jumat, 11 April 2014

"Sejauh mana teman mempengaruhimu?"

Jika ditanya, “apakah kamu mempunyai teman?”. Jawabannya pasti “YA”.


Di era globalisasi seperti saat ini, tentu kita semua mempunyai “teman”. 


Istilah teman bagi anak muda jaman sekarang ada dua, yang pertama adalah “teman nyata”. Yah misalnya saja teman sekolah, teman kuliah, teman nongkrong, teman gaul, teman nge-mall, teman main game, dan sebagainya. Lalu yang kedua adalah “teman tidak nyata”. Yang saya maksud bukan teman dari dunia lain lho. Tapi yang saya maksud adalah teman dunia maya seperti teman facebook, teman twitter, teman instagram, teman path, teman yahoo messenger, teman line, teman whatsapp, dan sebagainya.
Bayangkan saja kalau kita memiliki teman sebanyak itu, pasti kita dianggap sebagai anak gaul, anak mbois, anak keren, bahkan bisa jadi kita mendapat julukan “anak geng” gara-gara kita mempunyai teman yang mengikuti ke mana pun kita pergi.
Ngomong-ngomong soal teman, sebenarnya apa kalian tahu definisi ‘teman’ itu apa?. Menurut sumber terpercaya yang saya dapatkan (baca: wikipedia), definisi persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial.

Sumber: geraeldo.com







Nah, sekarang pertanyaan yang paling penting, “Sejauh mana teman mempengaruhimu?”. Ini merupakan pertanyaan yang paling mudah dijawab tetapi sebenarnya juga pertanyaan mematikan. Tidak percaya?? Coba simak apa yang saya sampaikan.. cekidot.




Semua bermula dari pertama kali saya memasuki jenjang perkuliahan. Saat itu saya merasa asing, nervous, dan seketika berbagai pikiran buruk menyerang saya hingga membuat perut saya mulas (mungkin terdengar lucu, tapi inilah yang saya alami -__-).
Ternyata setelah saya berkenalan dengan beberapa anak, saya berpikir bahwa ‘oh ternyata mereka baik ya, ramah, ramai, menyenangkan’. Padahal waktu itu saya bertemu anak-anak dengan berbagai latar belakang berbeda, ras berbeda, suku berbeda, yang mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa ras dan suku berpengaruh dalam kita melihat seseorang sebagai orang seutuhnya (apa ya bahasanya, saya bingung.hehe). Dari apa yang saya alami dan saya rasakan, ternyata berbeda dengan apa yang saya pikirkan sebelumnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa stereotype (keyakinan mengenai kepribadian seseorang atau kelompok) yang saya pikirkan, berbeda dengan apa yang akhirnya saya alami. Setelah kejadian itu saya berpkir tentang apa yang saya lihat dimasyarakat. Kebanyakan anak muda menilai orang dari tampilan luarnya saja sehingga menimbulkan stereotype. Sebenarnya, perlu kita sadari bahwa stereotype merupakan awal timbulnya diskriminasi (membeda-bedakan orang lain menurut suku dan rasnya). Misalnya, jika kita hanya mau berteman dari etnis tertentu karena kita menganggap buruk etnis lain. Nah, hal ini yang dinamakan stereotype dan berkembang menjadi prejudice (prasangka). Kemudian berkembang lagi menjadi suatu diskriminasi. Apakah kamu sudah mendapat kesimpulan dari apa yang saya sampaikan? Hmmm..baiklah, akan saya terangkan. Jadi kebanyakan dari pemikiran buruk kita dipengaruhi oleh orang lain terutama ‘teman’. Jangan mengelak kalau sebenarnya setengah dari keputusan yang kamu ambil karena pengaruh dari teman-temanmu. Misalkan, kamu membolos karena diajak teman, tidak mengerjakan tugas karena dipengaruhi teman, membeli makanan karena ikut-ikutan teman, ulangan ikut jawaban teman, mengerjakan tugas minta pendapat teman, dan sebagainya. Kebayang kan, bagaimana jadinya jika sebagian besar keputusan kita dipengaruhi teman? Kalau itu baik nggakpapa, tapi lebih baik lagi kita punya pendirian dengan tidak selalu mengikuti perkataan orang lain :) 

Sumber: pengetahuan-dan-hiburan.blogspot.com