Di ruang sempit ini aku mencurahkan segala kegelisahanku. Dengan bercahayakan lampu remang-remang aku menyalurkan perasaanku menjadi pahatan-pahatan patung bernilaikan seni tinggi. Bisa dibilang kegiatanku ini merupakn bagian dari "ritual" keseharianku saat larut malam. Orang rumah tak ada yang mengetahui hal ini, lebih tepatnya aku melakukan semua ini secara diam-diam.
Berbagai bentuk pahatan patung yang ku hasilkan mulai dari yang hanya mempunyai tinggi 50 cm hingga yang mempunyai tinggi mencapai lebih dari 1 meter.
Namun, pada suatu malam terjadilah peristiwa itu...
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Saat itu aku tertidur di gudang bawah tanah setelah menyelesaikan pahatan patungku yang ke-50. Tiba-tiba saja aku terbangun dari mimpiku setelah mendengar suara keributan yang amat keras. Namun rupanya semua terlambat, karena aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak tak karuan, dan membuat keringatku mengucur deras. Tanganku,kakiku diikat dengan rantai yang sekeras baja. Mataku satu-satunya yang dapat ku gerakkan dibiarkan melihat sesuatu yang mengerikan!
Aku melihat potongan tangan,kaki,dan kepala manusia yang dibunuh dengan sadisnya! Ibuku! Potongan tubuh itu adalah milik ibuku!
Seketika itu juga aku berteriak amat kencang dan aku mengeluarkan seluruh tenagaku hingga rantai yang mengikatku berhasil aku lepaskan. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku kumpulkan dan aku susun potongan tubuh ibuku. Malam itu aku benar-benar kalut hingga aku berteriak, aku marah, aku menangis, dan tanpa kusadari patung-patung hasil kerja kerasku selama ini aku hancurkan begitu saja.
Dengan segala amarahku, aku keluarkan sumpah serapah bagi orang yang telah melakukan ini semua!
Sejak saat itu, aku menjadi seorang lelaki berusia 18 tahun yang mendadak sebatang kara. Selama ini aku hanya tinggal dengan ibuku dan seorang koki, karena ayahku telah meninggal sejak aku masih kecil.
Peristiwa berdarah malam itu lantas menjadikanku berubah 180 derajat. Aku yang selama ini seorang lelaki yang penyayang dan lembut, mendadak menjadi lelaki yang kejam, beringas, dan tak kenal ampun. Seakan-akan mataku telah tertutup oleh kegelapan akibat rasa dendam atas pembunuhan sadis ibuku. Aku melatih diriku sendiri hingga menjadi orang yang kuat dan amat ditakuti saat aku berusia 20 tahun.
3 tahun ini aku mencari pelaku pembunuhan ibuku yang menghilang tanpa jejak bagai ditelan bumi. Hingga pada suatu hari di cafe tempatku nongkrong, aku mendengar percakapan dua orang lelaki yang berpakaian serba hitam. Mereka memakai hem hitam, jas hitam selutut, kacamata hitam, dan topi hitam. Dari penampilan mereka seperti kawanan perampok kelas kakap yang menjadi buronan polisi.
Aku mendengar percakapan mereka tentang pembunuhan seorang wanita yang mempunyai anak laki-laki berusia 18 tahun, 3 tahun yang lalu. Seketika itu juga wajahku merah padam, amarahku telah sampai diujung kepala. Maka saat mereka keluar cafe, aku mengikuti ke mana mereka pergi secara diam-diam.
Sesampainya diujung gang terpencil di tengah kota, aku melihat mereka bertukar koper dengan seseorang yang sama mencurigakannya. Yang lebih parah lagi, aku melihat salah seorang dari mereka mngeluarkan selembar foto seorang wanita. Foto itu adalah foto ibuku! Dengan seluruh amarah, aku keluarkan pistol dari saku celanaku dan ku tembakkan bergantian pada ketiga orang itu. DOOORRRRRRRR!!!! Dua dari mereka jatuh tersungkur. Tapi.. mendadak pandanganku kabur dan aku pun ikut terjatuh. Kepalaku seperti sudah terlepas dari tubuhku.. Rupanya ada seseorang yang menembak kepalaku dari arah belakang. Detak jantungku sudah mulai melemah.. benar-benar lemah. Namun, aku masih bisa mendengar orang yang menembakku berkata, "kau sudah berakhir anakku", dan.. aku sudah merasa nyawaku telah meninggalkan ragaku.
THE END